Bulan Muharram

15 12 2008

Sebagian masyarakat masih meyakini, bila bulan Muharram tiba, maka pertanda telah datang bulan yang penuh keramat. Diantara mereka sampai takut jika menikahkan putrinya pada bulan ini karena sugesti keyakinan tersebut. Perkara ini kelihatannya sepele namun kenyataannya tidak demikian, lantaran sudah masuk dalam wilayah syirik sedangkan syirik adalah dosa terbesar (yang tidak ada ampunannya ketika seseorang tersebut meninggal dengan membawa dosa ini). Namun, benarkah bahwa bulan Muharram bulan keramat? Adakah amalan khusus pada bulan ini? Cermati ulasan berikut. Wallahul Muwaffiq

A. Bulan Muharram dalam Pandangan Islam
Bulan Muharram atau dalam istilah jawa dikenal dengan nama bulan syuro adalah bulan Allah azza wa jalla yang sangat agung. Dia adalah bulan pertama dalam kelender Islam, termasuk bulan-bulan haram (suci-ed). Allah berfirman:
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah adalah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya adalah empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. At-Taubah:36)

Dari Abu Bakrah, dari Nabi shallallahu alaihi wassalam bahwasanya beliau bersabda:
“Satu tahun itu dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram. Tiga bulan berturut-turut: Dzul Qadah, Dzulhijjah dan Muharram. Satunya lagi adalah bulan Rajab yang terletak antara bulan Jumadits Tsani dan Syaban.” (Riwayat Bukhari,2958)

Hasan Al Bashri rahimahulullah berkata, ”Sesungguhnya Allah azza wa jalla membuka awal tahun dengan bulan haram, dan menutup akhir tahun dengan bulan haram pula. Tidak ada bulan yang lebih agung di sisi Allah azza wa jalla setelah Ramadhan dibandingkan bulan Muharram.” (Lathaiful Maarif, Ibnu Rajab, hal.79)

Keagungan bulan ini bertambah mulia dengan pernyandaran bulan ini kepada Allah azza wa jalla. Nabi shallallahu alaihi wassalam menyebutkan bulan Muharram dengan nama Syahrullah (bulan Allah). Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda:
“Puasa yang paling afdhal setelah puasa Ramadhan adalah puasa Syahrullah al-Muharram.” (Riwayat Muslim,1163)

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahulullah mengatakan, “Nabi shallallahu alaihi wassalam memberi nama Muharram dengan Syahrullah. Penyandaran bulan ini kepada Allah azza wa jalla menunjukkan kemuliaan dan keutamaannya. Karana Allah azza wa jalla tidak akan menyandarkan sesuatu kepada dirinya kecuali pada makhluknya yang khusus.” (Lathaiful Maarif, hal.81)

B. Amalan Sunnah di Bulan Muharram
Mendapati Bulan Muharram merupakan kenikmatan tersendiri bagi seorang mukmin. Karena Bulan ini sarat dengan pahala dan ladang beramal bagi orang yang bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan hari esoknya.

1. Puasa
Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda:
“Puasa yang paling afdhal setelah puasa Ramadhan adalah puasa Syahrullah al-Muharram.” (Riwayat Muslim,1163)

Hadits ini sangat jelas sekali bahwa puasa sunnah yang paling afdhal setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharram. Maksud puasa disini adalah puasa secara mutlak. Memperbanyak puasa sunnah pada bulan ini, utamanya ketikahari Asyura sebagaimana akan datang penjelasannya sebentar lagi. Akan tetapi perlu diingat, tidak boleh berpuasa pada seluruh hari bulan Muharram, karena Rasulullah shallallahu alaihi wassalam tidak pernah berpuasa sebulan penuh kecuali pada Ramadhan saja (Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi, 8/303)

2. Memperbanyak Amalah Shalih
Sebagaimana perbuatan dosa pada bulan ini akan dibalas dengan dosa yang besar, maka begitu pula perbuatan baik. Bagi yang beramal shalih pada buan ini, ia akan menuai pahala yang besar sebagai kasih sayang dan kemurahan Allah azza wa jalla kepada para hambanya.

3. Taubat
Kewajiban bagi seorang muslim apabila terjatuh dalam dosa dan maksiat untuk segera bertaubat, tidak menunda-nundanya, karena dia tidak tahu kapan kematian akan menjemput. Dan juga perbuatan jelek biasanya akan mendorong untuk melakukan perbuatan jelek yang lain. Apabila berbuat maksiat pada hari dan waktu yang penuh keutamaan,maka dosanya akan besar pula, sesuai dengan keutamaan waktu dan tempatnya. Maka bersegeralah bertaubat kepada Allah azza wa jalla. (Majmu Fatawaa, 34/180, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)

Puasa Asyura
1. Sejarah Puasa Asyura
Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram (Syarah Shahih Muslim, 8/12. Fathul Baari, 4/671). Dia adalah hari yang mulia. Menyimpan sejarah yang mendalam.

Ibnu Abbas radhiyaAllahu anhuma berkata, “Nabi tiba di Madinah dan Beliau mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa Asyura. Nabi bertanya,Puasa apa ini?. Mereka menjawab, Hari ini adalah hari baik, hari dimana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran musuhnya, maka Musa berpuasa sebagai rasa syukurnya kepada Allah. Dan kami pun ikut berpuasa. Nabi berkata, Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian, Akhirnya Nabi berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa.” (Riwayat Bukhari,2004. Muslim,1130)

Nabi dalam berpuasa Asyura mengalami empat fase:

Fase Pertama: Beliau berpuasa di Makkah dan tidak memerintahkan manusia untuk berpuasa.

Aisyah radhiyaAllahu anha menuturkan, ”Dahulu orang Quraisy berpuasa Asyura pada masa jahiliyah. Dan Nabi pun berpuasa Asyura pada masajahiliyah. Tatkala beliau hijrah ke Madinah, beliau tetap berpuasa Asyura dan memerintahkan manusia juga berpuasa. Ketika puasa Ramadhan telah diwajibkan, beliau berkata, Bagi yang hendak puasa silahkan, bagi yang tidak puasa, juga tidak mengapa.” (Riwayat Bukhari,2002. Muslim, 1125)

Fase Kedua: Tatkala beliau datang ke Madinah dan mengetahui bahwa orang Yahudi puasa Asyura, beliau juga berpuasa dan memerintahkan manusia agar puasa. Sebagaimana keterangan Ibnu Abbas radhiyaAllahu anhuma dimuka. Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wassalam menguatkan perintahnya dan sangat menganjurkan sekali sampai-sampai para sahabat melatih anak-anak mereka untuk puasa Asyura.

Fase Ketiga: Setelah diturunkannya kewajiban puasa Ramadhan, beliau tidak lagi memerintahkan pada sahabatnya untuk berpuasa Asyura, dan juga tidak melarang, dan membiarkan perkaranya menjadi sunnah sebagaimana hadits Aisyah radhiyaAllahu anha yang telah lalu.

Fase Keempat: Pada akhir hayat, Nabi shallallahu alaihi wassalam bertekad untuk tidak hanya berpuasa pada hari Asyura saja, namun juga menyertakan hari tanggal 9 Asyura, agar berbeda dengan puasanya orang Yahudi.

Ibnu Abbas radiyaAllahu anhuma berkata, “Ketika Nabi shallallahu alaihi wassalam puasa Asyura dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa, para sahabat berkata, Wahai Rasulullah, hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashara. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wassalam berberkata, Kalo begitu, tahun depan InsyaAllah kita berpuasa bersama tanggal sembilannya juga. Ibnu Abbas radhiyaAllahu anhuma berkata, belum sampai tahun depan, beliau sudah wafat terlebih dahulu.” (Riwayat Muslim,1134)

2. Keutamaan Puasa Asyura
a. Menghapus dosa satu tahun yang lalu
Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda:
“Puasa Asyura, aku memohon kepada Allah agar dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (Riwayat Muslim,1162)

Nabi shallallahu alaihi wassalam bersemangat untuk berpuasa pada hari itu
Ibnu Abbas radhiyaAllahu anhuma berkata:
“Aku tidak pernah melihat Nabi benar-benar perhatian dan menyengaja untuk puasa yang ada keutamaannya dari pada puasa pada hari ini, hari Asyura dan puasa bulan Ramadhan.”(Riwayat Bukhari,2006. Riwayat Muslim, 1132)

b. Hari dimana Allah azza wa jalla menyelamatkan Bani Israil
Ibnu Abbas radhiyaAllahu anhuma berkata: “Nabi tiba di Madinah dan Beliau mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa Asyura. Nabi bertanya,Puasa apa ini?. Mereka menjawab, Hari ini adalah hari baik, hari dimana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran musuhnya, maka Musa berpuasa sebagai rasa syukurnya kepada Allah. Dan kami pun ikut berpuasa. Nabi berkata, Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian, Akhirnya Nabi berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa.” (Riwayat Bukhari,2004. Muslim,1130)

c. Puasa Asyura dahulu diwajibkan
Dahulu puasa Asyura diwajibkan sebelum turunnya kewajiban puasa bulan Ramadhan. Hal ini menunjukkan keutamaan puasa Asyura pada awal perkaranya.

d. Jatuh pada bulan haram
Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda:
“Puasa yang paling afdhal setelah puasa Ramadhan adalah puasa Syahrullah al-Muharram.” (Riwayat Muslim,1163)

3. Cara berpuasa Asyura
Puasa Asyura ada tiga tingkatan yang bisa dikerjakan

Pertama: Berpuasa sebelum dan sesudahnya. Yaitu tanggal 9-10-11 Muharram. Dan inilah yang paling sempurna.
Kedua: Berpuasa pada tanggal 9 dan 10, dan inilah yang paling banyak ditunjukkan dalam hadits.
Ketiga: Berpuasa pada tanggal 10 saja.

Adapun berpuasa hanya tanggal 9 saja tidak ada asalanya.

4. Bid’ah-Bid’ah di Bulan Muharram
a. Keyakinan bahwa bulan Muharram bulan keramat
Keyakinan semacam ini masih bercokol pada sebagian masyarakat. Atas dasar keyakinan ala jahiliyah inilah, banyak di kalangan masyarakat yang enggan menikahkan putrinya pada bulan ini karena alasan akan membawa sial dan kegagalan berumah tangga. Hal ini adalah keyakinan jahiliyah yang sudah dibatalkan oleh Islam. Kesialan tidak ada sangkut pautnya dengan bulan, baik Muharram, Shafar atau bulan-bulan lainnya.

b. Doa awal dan akhir tahun
Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid berkata, “Tidak ada dalam syariat ini sedikitpun doa atau dzikir untuk awal tahun. Manusia zaman sekarang banyak membuat bidah berupa doa,dzikir atau tukar menukar ucapan selamat, demikian pula puasa awal tahun baru, menghidupkan malam pertama bulan Muharram dengan shalat, dzikir atau doa, puasa akhir tahun dan sebagainya yang semua ini tidak ada dalilnya sama sekali.” (Tash-hih ad-Duu’a, Bakr Abu Zaid, hal 107).

“Barangsiapa yang puasa pada akhir hari Dzulhijjah dan puasa awal tahun pada bulan Muharram, maka dia telah menutup akhir tahun dengan puasa dan membuka awal tahunnya dengan puasa. Semoga Allah menghapuskan dosanya selama lima puluh tahun.”

Hadits ini adalah hadits yang palsu menurut timbangan para ahli hadits. (Al-Fawaid al-Majmu’ah, As-Syaukani, no.280, dll)

c. Peringatan Tahun Baru Hijriyah
Tidak ragu lagi perkara ini termasuk bid’ah. Tidak ada keterangannya dalam As-Sunnah anjuran mengadakan peringatan tahun baru Hijriyah. Perkara ini termasuk bid’ah yang jelek.

d. Menghidupkan malam pertama bulan Muharram
Syaikh Abu Syamah rahimahulullah berkata, “Tidak ada keutamaan sama sekali pada malam pertama bulan Muharram. Aku sudah menerliti atsar-atsar yang shahih maupun yang lemah dalam masalah ini. Bahkan dalam hadits-hadits yang palsu juga tidak disebutkan. Aku khawatir -aku berlindung kepada Allah- bahwa perkara ini hanya muncul dari seorang pendusta yang membuat-buat hadits.” (Al-Baits ala Inkaril Bida wal Hawadits,hal.239)

e. Menghidupkan malam hari Asyura
Banyak manusia yang menghidupkan malam hari Asyura, baik dengan shalat, doa dan dzikir atau sekedar berkumpul-kumpul. Perkara ini jelas tidak ada tuntunan yang menganjurkannya.

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata, “Termasuk bentuk bid’ah dzikir dan doa adalah menghidupkan malam hari Asyura dengan dzikir dan ibadah. Mengkhususkan doa pada malam hari ini dengan nama doa hari Asyura, yang konon katanya barangsiapa yang membaca doa ini, tidak akan mati pada tahun tersebut. Atau membaca Al-Quran yang disebutkan nama Musa pada shalat Shubuh hari Asyura. Semua ini adalah perkara yang tidak dikehendaki Allah azza wa jalla, RasulNya shallallahu alaihi wassalam, dan kaum mukminin.

f. Shalat Asyura
Shalat Asyura adalah shalat yang dikerjakan antara waktu Zhuhur dan Ashar, empat rakaat, setiap rakaat membaca al-Fatihah sekali kemudian membaca ayat kursi sepuluh kali, Qul HuwaAllahu Ahad sepuluh kali, AL-Falaq dan An-Naas lima kali. Apabila selesai salam, membaca istighfar tujuh puluh kali. Orang-orang yang menganjurkan shalat ini dasarnya hanyalah sebuah hadits palsu. (Al-Fawaid al-Majmu’ah, no.60. Al-‘Aalai al-Masnuah,2/92)

g. Doa Asyura
Diantara contoh doa Asyura adalah, Barangsiapa yang mengucapkan HasbiyAllah wa Ni’mal Wakil an-Nashir sebanyak tujuh puluh kali pada hari Asyura maka Allah azza wa jalla akan menjaganya dari kejelekan pada hari itu.

Doa ini tidak ada asalnya dari Nabi shallallahu alaihi wassalam, para sahabat maupun para tabi’in. Doa ini hanya berasal dari ucapan sebagian manusia.

h. Memperingati hari kematian Husein radhiyaAllahu anhu
Pada bulan Muharram, kelompok Syiah setiap tahunnya mengadakan upacara kesedihan dan ratapan dengan berdemonstrasi ke jalan-jalan dan lapangan, memakai pakaian serba hitam untuk mengenang gugurnya Husein radhiyaAllahu anhu. Mereka juga memukuli pipi, dada, dan punggung mereka sendiri, merobek saku, menangis berteriak histeris dengan menyebut, Ya Husein. Ya Husein!

Alangkah bagusnya ucapan al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahulullah, “Adapun menjadikan hari Asyura sebagai hari kesedihan/ratapan sebagaimana dilakukan oleh kaum Rafidhah karena terbunuhnya Husein bin Ali, maka hal itu termasuk perbuatan orang yang tersesat usahanya dalam kehidupan dunia, sedangkan dia mengira berbuat baik. Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wassalam saja tidak pernah memerintahkan agar hari musibah dan kematian para Nabi dijadikan ratapan, lantas bagaimana dengan orang yang selain mereka.” (Lathaiful Maarif, hlm.113)

i. Peringatan hari suka cita
Yang dimaksud hari suka cita adalah hari menampakkan kegembiraan, menghidangkan makanan lebih dari biasanya dan memakai pakaian bagus. Mereka yang membuat acara ini, ingin menyaingi dan mengganti hari kesedihan atas peristiwa terbunuhnya Husein dengan kegembiraan, kontra dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang Syiah. Tentunya acara semacam ini tidak dibenarkan, karena bidah tidak boleh dilawan dengan bidah yang baru. Dan tidak ada satu dalil pun yang membolehkan acara semacam ini.

j. Berbagai ritual dan adat di tanah air
Di tanah air, bila tiba hari Asyura kita akan melihat berbagai adat dan ritual yang beraneka ragam dalam rangka menyambut hari istimewa ini. Apabila kita lihat dari kacamata syari, adat dan ritual ini tidak lepas dari kesyirikan. Seperti meminta berkah dari benda-benda yang dianggap sakti dan keramat, bahkan yang semakin mengenaskan sampai kotoran sapi pun tidak luput untuk dijadikan alat pencari berkah.

Diambil dan diedit dari sebuah buku…(lupa nulis judulnya)


Actions

Information

7 responses

15 12 2008
gbaiquni

hehehe… mulai aktif lagi nih …
ikut belajar yah mas…

-gbaiq-
[senyum]🙂

Yuks,kita sama-sama belajar….🙂

15 12 2008
4bu Huw@idah™

mas, koq kategorinya black religion tho???
agama baru ya???
bingung saya

We lha da lah…bukan begitu mas…bukan agama baru…ning ya,itu hanya seperti nama depan yang gak ada artinya…gitu dah…Tidak ada sedikit pun maksud untuk membuat agama yang baru mas…Aku bukan seorang nabi ataupun rasul,aku hanya seorang jahil yang berharap dapat hidup dengan para bidadari…hehehehehe
Lagian khan dah jelas bahwa, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” (Al-Maidah: 3)

15 12 2008
Ru2

Assalamu’alaikum wr wb…

Wa’alaikum Salam Ruru…

Ikutan kasih comment y…
Subhanallah blognya lengkap n islami…banyak ilmu n hikmah yg bisa diambil

Alhamdulillah, semoga blog-ku dapat memberikan manfaat kepada diriku dan pembaca yang lain🙂

Ayo…siapa yg mau belajar bareng…?

ikut-ikut,yuk kita cari ilmu sebanyak mungkin…

Kayany Mas Zainulhaq ad bkt t’pendam jadi ustadz atw penulis buku nih…atw ud t’realisir?amin…(unzhur maa qoola walaa tanzhur man qoola) begitu kt p’patah…

Waduh-waduh,aku nggak ada bakat jadi ustadz Ru, hafalanku lemah, ilmuku cetek, trus bahasaku nggak jelas….🙂

T’kait “Bulan Muharram”, ru jg kurang bnyk tahu n stlah bc blog ini jd tmbah ilmu…tapi intinya tinggalkan yg bid’ah dan krjakn prntah Allah SWT n Rasul-Nya…bukan begitu pa’ ustadz?heheheh…

Yup, tegakkah sunnah, tinggalkan bid’ah…”Kullu bid’atin dholalah….”

Tetap semangat…Allahu Akbar!!!

Mohon didoaken terus ya Ru….🙂

Nb : klo bs ada kutipan dr buku ap gtu…okeh!

Iya,aku lupa nyantumin judul bukunya…aku juga lupa judul bukunya apa…InsyaAllah nanti aku cariken deh…Hehehe

16 12 2008
bayu200687

wew, kerreeeentzzz bro postingannya
the art of blacknya dah tamat yah?

Wehehehe, belum dong…jatahnya sampai dua puluh…entar kalo sempat, insyaAllah mo buat uraiannya…🙂

16 12 2008
Itmam Aulia

salam, wah iya yah, jadi nyadar bentar lagi kan muharram, kudu persiapan nich untuk menyambut bulan yang agung… Selamat tahun baru Islam (ga kecepeten kan?!)🙂

salam juga mas…trimakasih telah berkunjung…🙂
Oh ya mas,kayaknya termasuk salah satu hal yang tidak diperkenankan tuh mengucapkan selamat tahun baru karna termasuk dalam kategori kegiatan peringatan tahun baru hijriyah….Allahu a’lam🙂
Saya tunggu comment-comment berikutnya yo mas….

5 01 2009
wahyu

Assalamualaikum..
Saya copy artikelnya ya mas..boleh kan? Mau tanya nih mas..
1. Bagaimana cara menyikapi pemikiran ala jahiliyah (mengeramatkan bulan muharram/suro) yang notabene ada di sekeliling kita. misal ga boleh nikah di bulan suro, ga boleh nikah di thn 2009, dsb. Banyak sekali teman dan saudara-saudara kita yang percaya dan takut jika melanggar hal ini karena sudah ada ‘kolo mengo’ dari orang yang membuat opini seperti itu.
2. Apakah pengertian bid’ah?Apakah semua bid’ah itu dosa?kira2 buku apa yang harus saya baca agar bisa memahami bid’ah dengan benar?

Wa’alaikum Salam Wahyu…Mohon maap aku baru bisa jawab sekarang karna di kantor sedang ada pembenahan kinerja…
Silahkan saja kalo artikelnya hendak dicopy…
Mmm….aku akan mencoba menjawab pertanyaan Wahyu:
1. Sikap kita terhadap bulan Muharram adalah seperti yang diperintahkah Allah dan RasulNya shalallallahu ‘alaihi wassalam. Kita perbanyak ibadah di bulan ini dan kita jauhi hal-hal syirik. Sebisa mungkin kita selisihi pemikiran-pemikiran sesat yang beredar luas di masyarakat dengan cara-cari yang syar’i. Jika bisa, berilah nasihat kepada pada anggota keluarga kita tentang muharram dan aqidah yang benar.
2. Secara syar’i, bid’ah adalah sesuatu hal dalam agama ini yang diada-adakan tanpa ada dasar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam ataupun dari para shabat. Salah satu contoh bid’ah yang mengakar di lingkungan kita adalah tahlilan. Pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam, amalan ini nggak ada….Sebenarnya para pelakunya sadar bahwa amalan ini nggak ada dasarnya,akan tetapi mereka menjawab bahwa hal ini adalah baik menurut mereka.
Semua bid’ah adalah sesat dan semua kesesatan adalah tempatnya di neraka…”Kullu bid’atin dholalah, wa kulla dholalatin fin naar” (kutipan dari khutbatul hajjah Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam)
Dulu ada sebuah buku berjudul Risalah Bid’ah karya Hakim bin Amir Abdat…Mudah-mudahan Wahyu bisa menemukan buku ini…Atau Wahyu searching di internet dan kita bisa diskusi setelah Wahyu mendapatkan artikelnya…

Allahu a’lam….semoga bermanfaat…

21 12 2009
RISMA

Assalamu’alaikum….

q copy paste jg ya….. mksh artikelnya! Mo sharing jg nich, stlh baca uraian di atas sbnarnya kita tau bhw tuntunan atau alasan kita mengerjakan puasa di sepuluh hari pertama pada bulan Muharram kan ga ada? tapi ada lho kiyai yang mendakwahkan kpd jamaahnya untuk berpuasa 10 hari itu? Mereka dapat hadist dari mana ya? mohon penjelasannya donk. Jazakumullahu khoiron katsiro……

Wa’alaikum salam Risma.
Allahua’lam mereka dapat hadits dari mana, karna ilmuku sendiri masihlah sangat sedikit (sekali).
Jikalau mereka mampu menunjukkan dalil yang shahih, insyaAllah puasa tersebut sah…jika dalil yang dibawa tuh lemah bahkan maudhu’, tentunya tidaklah sah amalan tersebut…Allahu’alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: