Cerita Diklat (1)

24 03 2009

Di awali gerimis di sore menjelang maghrib, aku melangkah keluar kosan dengan menenteng tas gedhe hasil pinjaman dan plastik berisi sepatu.

Wuikkk…berat nian…apa lagi naik jembatan penyeberangan yang ada di UI…masyaAllah…ternyata aku sudah tua ya…

Setelah peluh mengucur…ku naiki salah salah satu taksi yang ada di situ…”Mas, taksi…”.”Oh,yang itu pak” Kata sopir taksi sembari menunjuk salah satu mobil. “Ke Gadong, Ciawi…mau gak mas”. “Deket tol ya pak?”. “Iya.” “Baik pak…”

Taksi pun beranjak meninggalkan halte UI menyusuri jalan Lenteng Agung. Air hujan menetes kecil dengan frekuensi yang cukup lumayan. Kemacetan kecil yg rutin terjadi di Lenteng Agung kalo nggak ada pak pulisi sedikit menghambat perjalanan kami.

“kita ambil kiri saja ya pak, mo jemput temen dulu”. “Kira-kira kita bisa langsung masuk tol nggak pak, kalo kita berhenti sebentar di depan Antam.” “Oh,bisa pak”

Taksi kembali melaju memasuki pintu tol…”Lha,kok bayar tolnya pake uang sopir?” Tanyaku dalam hati penuh keheranan.”Ah sudahlah…entar kuganti saja”

Taksi terus melaju, menembus gelapnya malam yang diwarnai dengan rintik-rintik hujan…..

“Depan belok kiri pak”. Akhirnya kami sampai jua di Gadog. Beberapa saat kemudian kami sudah memasuki halaman Pusdikwas BPKP. Argo menunjukkan angka 130 ribuan. “Wah,mayan mahal juga” Pikirku.

“Tanda tangan di sini dulu pak” Kata resepsionist…”Lha,namamu mana Rif?” Tanyaku pada temenku satu kantor yang berangkat bareng denganku. Setelah bolak balik membuka daftar,”Mungkin bapak mengganti temen bapak yang nggak bisa hadir ya?” Tanya resepsionist. “Ya Allah, aku lupa.” Akhirnya persoalan pun terpecahkan. Syarif adalah pengganti rekan kami yang tidak bisa ikut pendidikan karena anaknya masih kecil. Memang seharusnya dia di rumah
sih…Bukan di kantor, apalagi ikut diklat yang lamanya hampir satu bulan kalender.

Dengan sigap, petugas asrama membawakan barang bawaan kami. Padahal barang bawaan kami terbilang berat. Apalagi lewat tangga karna nggak ada lift.Bener2 dah…

Sampai di lantai 4, ternyata kamar sudah ditempati orang. Dengan sangat terpaksa kami pun kembali turun. Benar-benar penuh perjuangan.

Pada akhirnya kami mendapatkan sebuah kamar di bungalow yang letaknya agak terpisah dari asrama.
Dan aku bisa tidur setelah melakukan berbagai aktifitas luar yang dimulai dengan makan pizza bersama Hadi dan istrinya….

“Assalamu’alaikum….semoga tidurmu nyenyak malam ini”


Actions

Information

One response

27 03 2009
Nuning

Assalamualaikum..Hmm ckckck kyk gt y ”perjalanan” menuju tempat diklat?Wehh..Emang jumlah anak tangga di jembatan penyebrangan Ui ada brapa??(tar itung lg dah :D)..Hehehe..Oiya,mungkin ongkos tol dah include ma argo nya mas(haduw..Sok tauw aq).bungalow ny kyk apa tuwh??Yakh moga betah sebulan disana:)..Yg penting,tetep semangat!!Otre.. (nb:kayaknya aku familiar ma kalimat terakhir d tulisan mu ini;)..Hahaha..Ups..Salam dah bwt mas hadi n mbk vebri..Wassalamualaikum..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: